Welcome everybody....

Welcome everybody....

Jumat, 01 November 2013

2 Bulan 5 Minggu 6 Hari

Teruntuk kekasih hati...
Tak terasa ya sayang.. sudah 2 bulan pernikahan kita. Alhamdulillah. Segala puji hanya bagi-Nya yang tak henti-hentinya melimpahkan kasih sayang untuk kita.
Memang tak seindah yang dibayangkan ya sayang... tapi kita menciptakan keindahan itu. Di atas segala perbedaan, di atas latar belakang yang kadang membuat kita salah paham, tapi kita selalu mencari jalan untuk menyatukan hati kita.
Ada saat di mana kita menangis bersama, tapi lebih banyak lagi saat kita tertawa bersama. Taukah kah sayang... melihatmu tertawa itu membahagiakan. Sungguh membahagiakan. Rasanya segala hal tak menyenangkan sirna melihatmu renyah tertawa.
Aku mencintaimu, sayang. Sangat. Terimakasih untuk cinta yang juga kau limpahkan untukku.
Terimakasih untuk mau saling mengerti tentang sifat manjaku dan juga sifat manja kita. :)

Dan kebahagiaan itu pun melengkap ketika 2 hari lalu kita mengunjungi dokter kandungan setelah 3 hari sebelumnya kita coba testpact dan hasilnya positif. Dan benar. kita melihatnya di layar USG. Meski belum terbentuk sempurna. tapi ia ada, sayang. Ia ada dirahimku. Buah cinta kita. Masih muda sekali. 5 minggu 4 hari kala itu dan hari ini usianya bertambah 2 hari. ah... kita akan menjadi orangtua, sayang. Ya. tak lama lagi. Alhamdulillah. Betapa Allah sangat baik pada kita y sayang.

Tetapi, di atas kebahagiaan itu, rupanya Allah menyelipkan ujian yang tak kita sangka. Masalah bertubi-tubi datang menimpa kita. Bahkan dari orang yang tak kita sangka2. Kita harus sabar y sayang.. kita harus berlapang dada menerima semuanya. Allah sayang pada kita. Sangat sayang. Pasti kita akan melewatinya. Kita akan bersama-sama mengarungi rintangan yang ada. Kita pasti bisa, sayang. kita pasti bisa.
Kita punya Allah. Kita doakan semoga orang-orang yang berlaku buruk pada kita segera dibukakan pintu hatinya dan diterangkan pikirannya hingga mampu melihat segalanya dengan iman yang ada di dada mereka. Kita doakan, sayang. kita doakan.

Sayangku... kita akan melewatinya bersama. Memperbaiki diri dari hari ke hari. Mempersiapkan mental yang kokoh untuk mendidik anak kita kelak. Aku, kau, kita. Dan tentu ada Allah. Kita harus semakin kuat, sayang. Tak boleh lemah. Ada si kecil yang merasakan apa yang kita rasa. Kita harus tunjukkan padanya bahwa kita mampu menjaganya dengan baik. Sampai ia lahir dan membersamai kita nanti.
Semangat ya Sayang... Semangaaat! Kita Pasti Bisa. Pasti ^^


Velangi
#Ya Rabb... kami berlindung kepada-Mu dari rasa sedih, dari kesulitan dan dari tekanan orang lain. Mudahkan kami untuk sabar dan berlapang dada ya Allah. Mampukan kami menjaga titipan-Mu dengan sebaik-baiknya. Jangan biarkan kami lupa dan lalai atas apa yang telah Engkau karuniakan kepada kami. Aamiin

1 September 2013 - 1 November 2013
Luv u, sayang... :*

Minggu, 22 September 2013

Sakinah, InsyaAllah

1 September 2013

Laki-laki yang tadinya tak ku kenal, yang beberapa bulan lalu mengajakku menikah, pagi itu, ia berhadapan dengan ayahku. Berpegang tangan, erat, bertatapan. Ia mengucapkan ikrar pernikahan, janji suci yang menggentarkan arasy-Nya. Ia mengambil alih tanggungjawab ayahku ke pundaknya. Ia menghalalkanku menjadi istrinya. Ia, Moch Irfan. Suamiku sejak hari itu. 25 Syawal 1434 H. Kami telah menjadi suami-istri saat ini. Menjadi pasangan yang akan mengarungi panjangnya bahtera kehidupan berdua. Meski akan mengalami proses saling beradapsi di awal pernikahan dan hingga seterusnya, 1 hal yang kurasa sejak hari itu, adalah aku telah jatuh cinta. ^^ dan aku tak ingin berlama-terpaku, aku ingin membangun cinta bersama laki-laki itu, suamiku, membangun mahligai istana kami, yang insyaAllah sakinah, mawaddah wa rohmah dalam ridho-Nya. aamiin.

Aku menjumpainya di tempat tidur malam itu. Memandang wajah tampannya. Menikmati lekuk khas senyumnya. Aku seperti menatap hidup baru di matanya. Di setiap kata-katanya aku merasakan cinta. Aku melihat ia kala bangun tidur. Ah, sudah ada yang terbaring di sampingku. Aku suka kecupan bangun tidurnya, aku suka pernyataan sayangnya padaku di saat ia tersadar di pagi hari, aku suka dan semakin suka. Kekasih halalku. Pangeranku. Laki-lakiku. Aku mengaguminya mulai detik itu. Detik dimana aku menyadari betapa Allah Maha Baik sudah mempertemukan aku dengannya. Suami yang tak banyak meminta ini itu, yang sabar pada manjaku, yang menggenggamku erat ketika gundah menerpa. Aku beruntung memilikimu menjadi pendampingku, mas. Aku mencintaimu. Ingin menjadi yang terbaik untukmu.

Sakinah. Tenang dalam Bahasa Indonesianya. Aku benar merasakannya semenjak menikah. Melihatnya makan masakanku, menyiapkan segala keperluannya, memanjakannya saat lelah, dan menemaninya hingga menjelang waktu istirahat adalah rutinitasku kini. Aku menghentikan segala aktifitas kerjaku sejak menikah, mencoba menikmati peran baru ini. Tak apalah untuk sementara menjauh dari rutinitas mengajarku, tak bertemu murid-murid kesayanganku. Aku ingin membersamaimu. mas. Meski jauh dari orangtua, berbeda kota dan berjam-jam jarak memisahkan, aku ingin mendampingin setiap waktu. Memenuhi kebutuhanmu, saling menguatkan, memberi dukungan atas segala pekerjaanmu, dan menjadi penawar rasa lelahmu. Aku ingin ada untukmu. Tak mau berjauhan. Tak mau meninggalkanmu demi beberapa peser uang yang tak ada nilainya dibanding melihat canda tawamu. Aku ikhlaskan semua. Aku untukmu, mas.

Sakinah. Setidaknya aku mulai merasakan itu. Sakitku di hari ke 13 pernikahan kita yang cukup membuatmu khawatir itu, membuatku sadar. Melihatmu yang dengan sabar merawatku, menenangkanku, dan membawaku ke dokter, aku semakin bisa melihat pancaran kasih dan cinta itu. Lalu ujian hati yang kemudian datang karena perselisihan dengan saudara jauh yang menjadi alasan aku berurai airmata di malam beberapa hari lalu itu, aku beruntung memilikimu menjadi penasihat yang netral dan menyejukkan. Aku melewati semuanya dengan tenang. Terimakasih, cinta. Terimakasih sudah begitu baik. Meski baru 23 hari kita melewati hari-hari bersama, tapi aku bahagia. Bahagia menjadi istrimu, menjadi ratumu, menjadi wanitamu.
Alhamdulillah. Terimakasih Allah. Terimakasih mama,papa,ibu,ayah dan adik-adik yang telah mendoakan, membantu saat acara pernikahan dan tak henti memberi dukungan untuk setiap langkah kecil kami. Terimakasih.. karena cinta kalianlah kami mampu sampai ke jenjang ini. Sakinah, insyaAllah...


Ve-Irfan
#Semoga jundi mungil itu segera hadir ditengah-tengah kita ya mas...
Alangkah lucunya ada riang yang mewarnai hari-hari kita kelak. Menambah indah warna pelangi kisah kita.
Aamiin ^^

Senin, 25 Maret 2013

Alangkah Panjangnya Jalan Ini

Aku tak hendak mengeluh. Tapi kadang sisi manusiaku keluar begitu saja dengan mudahnya. Sungguh memang sudah sebuah ketentuan bahwa jikalau ingin meraih kenikmatan yang sebenarnya maka harus melalui jalan kesulitan yang nikmatnya ruarrbiasa. Aku dan segala mimpi-mimpi yang belum lagi sepenuhnya terpenuhi. Aku dan setiap ejaan hidup yang kadang seperti berkejaran satu sama lain. Aku yang merindukan yang mungkin tidak seharusnya ku rindukan. Dan aku mulai merasa dan bahkan sangat merasa bahwa jalan itu begitu panjang, berliku, dan entah dimana habisnya.

Bukankah hidup sejatinya memang berjuang. Tak ada yang mudah untuk di raih. Apalagi dengan tanpa perhitungan yang matang. Apalagi penyakit malas yang mudah sekali mewabah dan tak mudah sembuh di kalangan banyak diri. Aku sungguh tak ingin terkena wabah itu. Aku masih punya banyak impian yang harus kuwujudkan. Aku masih punya banyak sekali asa yang mungkin belum lagi sempat ku utarakan pada siang dan malam yang berganti begitu cepat. Aku memang tidak sendiri. Tak pernah sendiri malah. Mimpi ku sebenarnya adalah lingkupan mimpi-mimpi orang-orang terkasih. Harapku adalah juga bentuk penyempurnaan harapan-harapan dari orang-orang yang mengenalku dengan arif. Dan asaku yang selangit itu adalah juga sebenarnya kumpulan dan pengintegrasian asa-asa dari masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang dari ku dan orang-orang yang melihat perjuanganku dari sejak masih belum mengenal dunia hingga mulai menapaki jalannya di batu-batu kecil dan besar menuju tangga keindahan.

apakah bahasaku terlalu menjelimet atau malah tak beraturan. Ah..entahlah. yang pasti aku ingin menulis. Penat rasanya. Tugas akhir itu menguras pikiran, fisik dan tentu dompetku. Banyaknya tanggung jawab yang ku emban dan malah menyisakan hutang di beberapa tempat. Aku masih berjuang. Tak ingin dan tak akan kalah oleh situasi. Aku dan setiap detik kelelahan adalah hanya manifestasi dari mimpi-mimpi yang sudah menanti di depan sana untuk diwujudkan dengan keseriusanku. Aku memang berpelu, banyak. aku berairmata, sering. dan aku kecewa, tak terhingga hitungannya. Tapi tidak untuk setiap pencapaian yang sudah ku buat. Aku kecewa untuk banyak hal yang terlewatkan bersama orang-orang terkasih karena kesibukanku yang jauh dari mereka, aku kecewa karena belum juga mampu memenuhi setiap ingin yang terlontar atau tak terlontar dari mereka dan aku kecewa karena belum juga sempurna sebagai seorang perempuan. Bukan salahku atau salah siapapun meamng. ini hanya tentang waktu. Tentang ketentuan Tuhan yang sudah dituliskan jauh sebelum aku dilahirkan. dan aku tak sepatutnya menggugat itu. Bukankah ketentuan Tuhan adalah yang terbaik yang disiapkan dan dijadwalkan untukku. ini hanya tentang waktu, bukan apapun.

Jika esok, aku menemui lagi kenyataan bahwa jalan itu panjang, mohon berikan aku telaga sabar yang lebih luas menjegal. Mohon berikan aku pundak besi yang tak mempan pukulan-pukulan ketidakpuasan, mohon berikanku sabana padang rumput yang tak terhingga jaraknya untuk ku semai rumput ikhlas nan akan membawaku pada ketenangan dan keyakikna penuh bahwa Engkau sungguh tak tidur di atas sana. Bila waktunya kelak. segala urusan ini akan selesai. Akan tuntas semua kebosanan dan keletihan ini. Dan saat itu, aku mungkin sudah mulai bisa memetik dan memakan buahnya. Buah dari yang kutanam bertahun-tahun ini. Ya. suatu hari. nanti...
Aamiin.



#Ini tak panjang sebenarnya, hanya jalan yang akan membawaku pada diri yang lebih baik dan membaikkan diri yang lain. Semoga. :) #

Rabu, 06 Maret 2013

Rindu Itu Bernama Malu

Menelusup angin melewati jiwa
Menikung mata menuju hati
Serupa awan menyelimuti kapal
Tak berjalan tak tau arah kemana

Berayun pada tali yang hanya seutas
Meliuk meski raga sudah terlalu lelah
Peluh yang merayu tak jua ingin mengering
Dan temaram langit tetap tak berubah

Bukankah sudah ada tanda dari jauh
Suara nyanyian memecah kesunyian
Bila pun tanah menguap meniupkan gersang
Ada air hujan yang selalu mampu membasuhnya sempurna

Kelak, kan kuceritakan pada bintang
Bahwa bulan masih setia menemani rasa
Pada ujungnya kan ku deraikan pula tawa pada siang
Kan ku tarikan lagu cinta penuh suka cita

Pada embun yang esok kan kembali menemui dahan
Bolehkan menitip rangkaian pesan
Atau bisikkan saja pada daun-daun hijau nan segar itu
Tak perlu terlalu gaduh, pelan saja sembari mengulur doa

Di titik yang penuh warna merah
Tapi biru masih mengiring dengan anggun
Dan aku pastikan ungu terbawa pada bijak sang waktu
Meski putih dan hitam tetap menghadirkan kelabu dalam ragu

Ini hidupku, bukan hidupmu
Jadi mengapa kau ambil perahuku
Dimana kau lemparkan sampanku
Bahkan bocornya pun tak pula kau hiraukan

Bagimu, ya bagimu duhai pembuat lukisan
Cobalah hapus tintamu yang tak lagi perlu ada di situ
Bawalah ia serta dalam perjalananmu
Bukan ditinggalkan tanpa pesan di tengah malam

Gelap itu memang kan menjadi terang di esok hari
Secerah mentari yang memegang tahta paling rahasia
Andai kau tau wahai pangeranku
Aku rindu, dan rindu itu bernama malu.


^^
Velangi. #Berusaha menemukan hati dalam hati-hati. Smangat!


Selasa, 05 Maret 2013

Jari Manis

Pagi ini... terjadi insiden tak terduga. Malam tadi menginap di rumah tante. Dan pagi ini sengaja stay di rumah sebelum berangkat agak siang ke perpus untuk nyari data buat proposal thesis. Itu rencana awal. Tapi semua berubah setelah musibah 'kecil' itu. Saya begitu semangat menutup pintu rumah tante yang model dorong dan hasilnya, jari manis tangan kanan saya nyangkut di tengah pintu dan terjepit dengan sangat kuat.
Ya Allah... sakitnya....luar biasa.
Pengen nangis rasanya. Setelah beberapa menit, jari mulai menunjukkan reaksi.
Perih, nyeri, nyut-nyutan tak terkira. Lalu kukunya mulai memerah, bagian belakang jari membiru dan terasa keras. Darah beku sepertinya tertahan di sana. Persis seperti orang habis mencoblos saat pemilu dan diberi tanda tinta biru. Itu dia keadaan jari saya. Cemas melihat itu, langsung saya menelvon mama.

Hal kecil memang, tapi begitulah saya, tak bisa tak cerita dengan mama mau apapun itu kejadiannya. Dan mama menasehati untuk merendam dalam air hangat. Sudah saya lakukan dan masih sakit. Akhirnya mama memberi solusi untuk melihat buku ramuan tradisional untuk menanganinya dengan benar. Saya cukup tenang. Semoga memang tak ada apa-apa dengan si jari manis saya. Tak lucu bila nanti malah harus dilakukan bedah mengeluarkan darah bekunya. Na'udzubillah...

Dengan insiden ini, sungguh...saya seperti mendapat pelajaran dan hikmah. Sering kita tak menyadari betapa nikmat yang diberikan Allah itu benar-benar luar biasa. Pun hal-hal yang nampak tak begitu jadi perhatian, tapi ketika terjadi sesuatu baru terpikirkan. Seperti saya, saat jari lagi sakit begitu saya baru sadar betapa pentingnya peran jari manis. Mungkin selama ini jarang saya sadari bahwa, jari manis berperan saat harus mencuci piring, menyikat gigi, memasak, mengetik bahkan berwudhu. Alangkah baru terasa ketika ia tak bisa difungsikan sebagaimana mestinya. Dan benarlah, sakit di satu bagian tubuh akan mempengaruhi tubuh yang lain. Nyut-nyutnyaa...bikin ga niat mau ngerjain yang apapun.

Astagfirullah... ampunkan saya ya Rabb. Baru menyadari betapa nikmatMu tak terkira yang sudah Engkau limpahkan. Saya belajar dari peristiwa kecil hari ini. Jari saya kemudian di balut dengan kain. Yang terlebih dulu dilumuri campuran bawang putih, kemiri dan garam, ditumbuk halus, atas saran mama. Alhamdulillah nyerinya agak berkurang. Saya bisa tidur siang dan tak lagi meringis krna nyut-nyutnya yang cetarrr membahana badaiii.
Huhu...

Segera sembuhkan jari manis saya ya Allah. Tugas itu menanti untuk diselesaikan. Semangaaat.


#Doa saya, semoga jari manis saya tetap cantik saat nanti akan dilingkarkan cincin pemberian suami. Tak ada cacat, tak ada cela. Aamiin ^^


Velangi
March 5, 2013

Selasa, 26 Februari 2013

Bolehkah Iri Duhai Allah...

Iri...
Bolehkah iri duhai Allah...
Melihat mereka menggandeng pasangannya dengan mesra...
Seolah dunia begitu tiada masalah..

Iri...
Bolehkah iri duhai Allah...
Menyaksikan mereka menggendong dan berbicara dengan buah hatinya...
Seperti begitu sempurna segala rasa...

Iri...
Bolehkah iri duhai Allah...
Menatap riang canda mereka...
Dan diri ini masih terus sendiri tanpa kekasih halal menemani...

Ah...aku tak patut iri sebenarnya...
Bukankah sudah ada bagian waktu masing-masing
Aku tak boleh iri...
Bukankah Allah adalah sutradara terbaik yang telah mengatur segalanya dengan indah dan sempurna
Aku hanya iri...
Karena aku tak cukup sabar menanti takdir itu
tak cukup berlapang hati menerima ketentuan-Mu bahwa jodohku belum juga saatnya sampai
tak cukup melihat bahwa tak selalu yang nampaknya indah, mudah dan bahagia adalah juga keadaan sebenarnya.

Bolehkan iri duhai Allah...
Bolehkah....
Maafkan... ampunkah... ringankan...
Sesak yang menyusup setiap kali menerima undangan sahabat yang mendahului menikah
Maafkan... ampunkan...ringankan...
Langkah yang kadang terhenti di awal hari karena mengingat luka di masa lalu yang tak kunjung sembuh karena penghianatan itu..
Maafkan... ampunkah...ringankan...
Air mata yang kadang begitu mudah mengalir tanpa terbendung...

Bukan...bukan aku tak bersyukur...
Tapi hanya caraku meminta pada-Mu
Bukan...bukan aku tak merasa berkah-Mu
Tapi hanya hatiku yang belum utuh...

Dimana dia duhai Allah...
Di belahan bumi yang mana...
Masih lamakah dia tiba di hadapanku duhai Allah...
Berapa lama lagi?
Dimana?
Bagaimana?

Bolehkah iri duhai Allah...
Atau memang telaga sabarku harus di perluas, diperlebar dan di perdalam lagi
agar lapang semua rasa
tak lagi resah membahana di jiwa
dan yang tersisa...
Percaya...bahwa Engkau sungguh adalah Maha Penyayang yang tak pernah berhenti menyayangiku dengan cara-Mu yang kadang sulit sekali di cerna olehku yang tak berilmu ini duhai Allah...
Aku malu...
Aku tak akan iri...
Ya. Seharusnya memang begitu. Tak boleh iri.
Semangaaaat Velangi!
Semangat!

#dan bulir itu mengalir lagi. cepatlah cinta...aku menantimu... :)


Senin, 25 Februari 2013

Pelangiku

Kau pelangiku...
Masih...dulu hingga kini...
Belum berubah dan mungkin tak akan berubah

Kau pelangiku...
Utuh...tak tersentuh...
Ku jaga dengan segenap rasaku

Kau akan tetap jadi pelangiku...
Tak peduli warna apa yang kau bawa padaku
Bagiku semua warnamu membuatku rindu

Kau memang pelangiku...
Pun tak pernah lagi ku katakan itu
Biarlah hanya aku yang tau

Dan kau akan selalu jadi pelangiku...
Sejauh apapun kakimu dan kakiku menuju
Pada masanya, waktu akan membawa cerita bahagia.

*^_^*

Senin, 18 Februari 2013

Inikah Aku...

Aku...seperti kehilangan diriku
Ini...benarkah ini jalanku
Kenapa sepi... kenapa tak ada suara lagi
Bukankah tadinya ramai
Atau aku yang menutup pintu dengan egoku
Aku...seperti tak lagi mengenali jejak-jejak yang tersisa
Ini...benarkah ini masih jalanku
Kenapa begitu kosong...kenapa bolong di sana sini
Bukankah tadinya rapi
Atau hanya halusinasi dari raga dan jiwa yang letih
Aih...aku tak suka di sini..Sungguh tak suka
Aku ingin aku yang bukan ini
Aku mau aku yang memang aku
Dimana...dimana...diriku
Tolong segera kembali...aku rindu

Kamis, 07 Februari 2013

Just Enjoy the Show...^^

Di titik ini...saya seperti tersadar. Semakin meyakini bahwa seindah apapun rencana yang kita buat, selihai apapun kita merancangya, dan semegah apapun tujuan yang ingin dicapai, jika Allah bilang TIDAK, maka tak akan terwujud segalanya. Sungguh...DIA...Maha Mengetahui. Bukan tak sayang pada kita. Bukan tak mau melihat kita bahagia dengan mimpi-mimpi kita...tapi DIA lebih tau yang baik dan terbaik untuk kita. Karena memang tak semua yang kita inginkan baik untuk kita. Tak semua yang kita mau adalah yang kita butuhkan. Allah sungguh tak ingin kita terjatuh, terperosok bahkan terbaring lama di tempat yang tak seharusnya kita hampiri. Tak ada alasan selain Allah menyelamatkan kita dari jalan yang akan menjauhkan kita dari-Nya. Allah telah mengatur segalanya dengan indah. 

Suatu hari...bila waktunya tiba, pelangi akan muncul. Ya. setelah hujan dan panas terik yang melelahkan ini, ia akan menampakkan warna-warni mempesonanya. Dan kita tersadar...bahwa Allah mempersiapkan segalanya hanya untuk kita. Bahkan yang belum lagi terucap untuk kita pinta, Allah telah membuat kejutan super manis untuk kita. Yakinlah...waktu itu sebentar lagi. Ya...menanti dengan menyibukkan diri melakukan kebaikan, berbuat hal-hal bermanfaat untuk diri-sendiri dan tentu orang lain, menambah ilmu yang memang masih belum ada apa-apanya dibanding ilmu yang Allah sediakan di dunia ini. 

Duhai Allah...sabarkan kami dalam menanti takdir indah-Mu. Kuatkan langkah kami dalam berjuang dan berkerja demi impian2 kami. Kalaulah ternyata impian kami memang tak seindah ketentuan-Mu...bantu kami untuk ikhlas dan berbahagia atas semua yang kami punya. Aamiin...

Semangaaat Velangi! ^^

Minggu, 19 Februari 2012

I know You are there Allah. I know You see my tears. I know You hear my prayers. I know You are testing me. And all I ask from You, is to strengthen my Imaan, so I can handle the struggles in life and have patience. Aamiin