*Akhir Oktober*
Hampir
dua bulan sudah pernikahan kami. Menjalani kehidupan rumah tangga yang
tak selalu seindah pelangi. Belajar menerima dan menghargai setiap
kekurangan dan kelebihan. Tentu tak selalu berhias tawa, ada sedih dan
airmata mengiringi. Ya. Begitulah dinamika pernikahan, dengan
warna-warninya yang kadang mengejutkan dan membuat mata serta hati lebih
terbuka. Iman adalah pondasi, cinta adalah pengikat, komitmen adalah
penjaga, dan tanggung jawab adalah dinding pengokoh yang membuat sebuah
rumah tangga tetap bersandar pada tujuan awal menikah, berbahagia dan
meraih ridho-Nya. Meski berbalut sejuta rasa, tapi melewatinya dengan
bergandeng tangan adalah kemesraan nan menentramkan.
Dan
kamipun mendapatkan kabar bahagia yang tentunya dinantikan oleh setiap
pasangan baru menikah. Saya positif hamil. Alhamdulillah. Setelah
melewati 4 hari terlambat datang bulan, saya dan suami memberanikan diri
untuk menggunakan test pack. Dan ternyata ada dua garis merah muncul.
Karena tak yakin, saya sempat meminta beberapa teman yang telah lebih
dulu merasakan hamil untuk memastikan apakah benar hasilnya. Mereka
sepakat bahwa benar saya hamil. Esoknya, saya dan suami pergi ke dokter
kandungan untuk memeriksakan diri. Di kunjungan yang pertama ini saya
dan suami memilih seorang dokter yang berdasarkan info seorang teman
kerja suami adalah seorang dokter senior di kota tempat kami tinggal.
Dokternya sudah berumur, 50 tahunan mungkin. Ia bukan muslim, ada anjing
berbulu lebat di ruang prakteknya. Ah, semoga kami tak salah pilih.
Saya
tak langsung diperiksa meski telah menunggu lebih dari 1 jam. Sang
dokter malah menasehati banyak hal. Tentang mengapa begitu cepat hamil,
kenapa tidak menunda 1 tahun untuk saling mencocokkan diri, kalau punya
anak cukup dua saja dan cerita tentang pengalaman prakter sang dokter di
pulau seberang yang sebetulnya tak perlu kami tahu. Saya dan suami
hanya tersenyum walau dalam hati sudah tak sabar dengan sang dokter.
Lagipula mengapa harus menunda punya anak, bukankah menikah untuk
memiliki keturunan. Hm, pak dokter aneh-aneh saja. Dan akhirnya tibalah
saatnya, karena saya mengatakan bahwa di test pack hasilnya positif maka
saya pun langsung di usg. Dibantu seorang perawat yang berhijab, sang
dokter memeriksa keberadaan janin saya. Ia agak kesulitan nampaknya,
tapi ia terus mencari, ia bilang untuk usia kandungan masih muda memang
bayinya belum terlihat. Dokterpun akhirnya menemukan kantong janin saya.
Ia menanyakan tanggal haid terakhir saya dan dengan bantuan perawat
menghitung usia kandungan saya, 5 minggu 4 hari. Wah... Alhamdulillah.
Saya pun memberi tahu kabar bahagia itu pada orangtua, keluarga dan
teman2. Senangnya... cucu pertama ini tentu membuat semua bersuka-cita.
Sehari
setelah itu, sebuah ujian datang. Ada salah paham dalam keluarga yang
melibatkan saya dan suami. Masalah kecil yang tumbuh menjadi besar tanpa
disangka. Ya Allah...kenapa harus sekarang, kenapa kami, kenapa... Saya
yang sedang dalam kondisi mental tak stabil karena kehamilan maka mudah
sekali sensitif dan menangis. Beberapa hari setelahnya saya masih sedih
berkelanjutan hingga orangtua menasehati agar berhati-hati jangan
sampai mempengaruhi kondisi janin saya. Dan benar saja, saya sempat
drop. Suami dengan telaten merawat saya. Sadar bahwa saya berbadan dua,
maka saya menguatkan hati untuk bersabar dan menjadi sehat adalah
pilihan yang harus diambil. Saya dan suami saling mendukung dan
memotivasi bahwa ujian ini karena Allah sayang pada kami. Kami pasti
bisa melaluinya. Semua akan berakhir secepatnya.
Hari-hari
berlalu, saya semakin doyan makan, kalau orang-orang hamil muda banyak
mengalami mual dan muntah maka saya sangat jarang. Hanya saat-saat
terntentu saja rasa mual dan ingin muntah itu datang. Semuanya saya
makan kecuali yang memang tak dianjurkan untuk ibu hamil. Saya merasa
sangat baik menjalani kehamilan. Suatu hari ada flek memang yang muncul.
Tapi Alhamdulillah tak berlanjut. Saya semakin banyak mencari tahu
lewat internet segala hal tentang kehamilan. Dari yang saya baca saya
pun tahu bahwa flek itu adalah normal. Ia pertanda adanya proses
penempelan janin di rahim. Leganya. Saya pun kembali ceria melewati hari
demi hari. Saya memang sedang tidak bekerja. Suami meminta untuk saya
di rumah saja di awal kehamilan ini. Saya yang terbiasa mengajar dan
beraktifitas tentu sempat merasakan jenuh dan seperti kehilangan satu
sendi kehidupan. Tapi tak apa. Ini adalah permintaan suami dan memang
harus dijalani. Saya menikmati semua yang Allah berikan pada saya.
Hingga
suatu pagi saya menemukan ada flek yang kembali keluar. Sudah 8 minggu
usia kehamilan saya. Memang, saya sering mengalami kontraksi ringan
beberapa hari kemarin. Saya pikir wajar, biasanya memang kontraksi
terjadi saat saya selesai mengurus pekerjaan rumah. Suami pun menasihati
untuk tak terlalu capek. Tapi flek itu terus keluar. Semakin coklat dan
saya menjumpai setitik darah yang saya pikir ada sesuati yang tak baik
terjadi. Saya langsung mengabari suami. Dan suami meminta izin dari
kantor untuk segera membawa saya ke dokter. Kali ini kami memilih rumah
sakit berbeda dan dokter yang berbeda. Entah kenapa, saya tak mau
kembali ke dokter yang sebelumnya. Rumah sakit yang kami datangi adalah
rumah sakit bernuansa Islam. Lebih nyaman dan tenang suasananya. Tak
lama menunggu dokter pun memeriksa saya. Dengan keluhan keluar flek
dokter pun langsung mengarahkan alat usg ke perut saya. Dan ia langsung
mengatakan bahwa kehamilan saya tidak bisa dipertahankan. Saya seperti
tak percaya. Apa iya secepat ini. Saya teringat beberapa malam lalu saya
pernah menyampaikan ke suami bahwa ada beberapa kondisi kehamilan yang
harus kita waspadai. Salah satunya adalah kehamilan BO atau Blighted
Ovum. Kehamilah dimana janin tidak berkembang sempurna hingga harus
dikeluarkan dengan cara kuretase. Saya pun bilang ke suami waktu itu
bahwa kami harus siap dengan kemungkinan apapun. Dan sekarang dokter
melihat bahwa kehamilan saya tidak sesuai dengan usia seharusnya.
Perkembangan yang lambat dan ia hanya melihat kantung janin saja. Ya
Rabb...apa iya saya juga harus mengalami ini..
Dokter
menjelaskan semua yang kami tanyakan. Tentang penyebabnya yang bisa jadi
karena kelainan kromosom, tentang kemungkinan saya di kuret, tentang
bagaimana bila saya tetap mempertahankan janin saya, tentang banyak hal
yang ingin kami tau agar kami tak salah mengambil keputusan. Ingin
menangis rasanya saat itu juga, tapi saya tau saya harus kuat. Dokter
menawarkan saya untuk observasi dulu seminggu sampai dua minggu ke
depan. Beliau meresepkan obat berupa vitamin dan penguat kandungan.
Biayanya lumayan menguras kantong. Tapi demi calon buah hati, apapun
akan kami lakukan. Di perjalanan pulang saya mengabari kelurga. Rasanya
baru kemarin kami berbahagia dengan kabar kehamilan tapi sekarang malah
kabar buruk ini yang harus kami terima. Entahlah mau menyalahkan siapa.
Dokter sebelumnyakah yang kurang cermat dengan kondisi janin saya dan
memberi obat yang kurang tepat, saya pribadikah yang kurang menjaga dan
bersyukur dengan pemberian-Nya atau menyalahkan kondisi yang membuat
saya tertekan dan stres beberapa waktu lalu. Ya Rabb... ujian ini tak
mudah untuk kami...berilah hati yang lapang dan pikiran yang jernih
untuk melewatinya. Sabarkan dan kuatkan kami agar tak berprasangka buruk
pada-Mu. Mungkin memang kami harus lebih banyak mempersiapkan diri,
harus lebih banyak belajar menjadi orangtua, harus banyak bermuhasabah.
Hari-hari
selanjutnya adalah masa istirahat total. Bed rest ditemani suami yang
sengaja mengambil cuti kerja untuk merawat saya. Berbaring seharian itu
sungguh tak enak. Hanya bangun bila akan ke kamar mandi atau saat makan
disuapi suami. Sholat pun dengan berbaring. Selebihnya saya seperti
menjadi robot yang tak boleh banyak bergerak agar flek tak lagi keluar.
Semua makanan yang disarankan keluarga dan teman saya makan. Mulai dari
telur ayam kampung, alpukat, dll. Saya sempat membaik tapi 3 hari
kemudian saya malah mengalami pendarahan. Saya menangis dan menyerahkan
semuanya pada Allah. Saya tahu ini yang terbaik untuk saya dan janin
saya. Orang-orang terdekat tak henti membantu memberi support. Saya pun
menghubungi beberapa teman yang lebih dulu memiliki pengalaman janin
tidak berkembang. Mereka menyarankan agar saya mau dikuret. Kondisi
seperti saya tidak baik dipertahankan. Janin yang tidak berkembang harus
dikeluarkan agar tidak membahayakan saya nantinya. Belum rezeki kata
mereka. Belum siap mungkin saya dan suami menjadi orangtua. Atau memang
belum waktunya. Ah, saya sedikit sakit mendengar itu, tapi memang inilah
yang harus saya jalani.
*Akhir November*
Malam itu,
22 November 2013, kontraksi semakin menjadi, darah segar mulai keluar
dan saya sudah pasrah jika semuanya harus diakhiri. Sehari sebelumnya
saya telah mengajak janin saya berkomunikasi. Saya mengajaknya ngobrol
seolah ia bisa mendengar saya. Saya meminta maaf bila saya lalai
menjaganya atau saya kurang bersyukur atas kehadirannya dan saya akan
ikhlas apapun yang terjadi. Bila ia masih ingin tumbuh di rahim saya,
maka saya akan berbahagia dan berjuang merawat serta membesarkannya.
Tapi bila ia ternyata memang sudah tak bisa lagi tumbuh dan berkembang
maka saya ikhlaskan dia pergi. Saya kuat. Kami kuat dan akan melaluinya
bersama. Sayapun dibawa ke rumah sakit menjelang tengah malam. Dokter
yang ternyata berasal dari kota yang sama dengan kami begitu ramah
menjelaskan kondisi saya. Setelah menjalani pemerikasaan yang cukup
membuat saya menjerit, dokter memastikan kondisi janin sudah tidak baik
untuk dipertahankan. Ia sudah diselimuti darah dan akan berbahaya bagi
saya bila memaksa untuk bertahan. Dokter menyarankan untuk segera
dilakukan kuretase. Ia membolehkan saya pulang malam itu dan kembali
lagi esok hari untuk proses kuretase. Ya. Tinggal menunggu jam dan
engkau akan tak ada lagi di rahim umi nak.
Sesampainya
dirumah malah saya sulit tidur. Ini malam terakhir bersama calon anak
kami. Terbayang banyak hal tentang bagaimana esok akan berlalu. Apakah
akan lancar semuanya, apakah malah harus berujung pada kematian yang
saya sendiri merasa belum siap. Bagaiman nasib suami nanti, sedihkah ia,
menikah lagikah ia. Ya Allah... alangkah beratnya ujian ini. Kenapa
harus saya...kenapa bukan kehamilan normal saja yang saya alami...
kenapa orang lain bisa dengan mudah memiliki anak. Pertanyaan-pertanyaan
itu berputar terus di kepala saya. Di tengah sedih itu, saya teringat
nasihat seorang teman yang beberapa bulan sebelumnya juga mengalami hal
yan sama. Ia meyakinkan bahwa kita beruntung mengalami ini, karena tidak
semua orang seperti kita. Anak yang tidak jadi lahir akan menjadi
tabungan orangtuanya kelak di surga. InsyaAllah... bila orangtuanya
sabar dan ikhlas maka ia akan menunggu di pintu surga dan mengajak
orangtuanya masuk ke surga-Nya Allah. Saya tergugu dan malu. Tak boleh
lemah. Saya pasti bisa melewatinya. Bismillah..
Esoknya,
saya dan suami diantar sopir kantor suami pergi lagi ke rumah sakit
dengan membawa perlengkapan secukupnya. Kami hanya berdua, keluarga kami
jauh di kota berbeda. Saya sudah meminta mama untuk datang menemani
saya dan mamapun langsung pergi memenuhi permintaan saya. Berada di
kamar rumah sakit bersama suami. Sungguh, ini tak pernah saya alami
sebelumnya. Sampai usia 27 tahun saya tak pernah sekalipun dirawat di
rumah sakit. Ini ntuk pertama kalinya saya menjadi pesakitan seperti
ini. Ada rasa yang entah apa namanya, semua sudah bercampur menjadi
satu. Sempat berdebat saat perawat akan memasangkan infus karena saya
begitu takut. Saya pun sempat pula dimarahi perawat karena saya tak mau
diperiksa pada bagian bawah tubuh untuk memastikan kesiapan saya
menjalani operasi. Inilah hari bersejarah itu, nak. Umi tak melahirkanmu
tapi mengalami kontraksi yang luar biasa sakitnya setelah diberi obat
induksi oleh perawat. Sakitnya sungguh belum pernah umi rasakan. Ayahmu
setia disamping ummi menguatkan dan tak henti meyakinkan bahwa ummi bisa
melaluinya. Ya Rabb... saya tau ini harus saya lewati, tapi mohon
kuatkan saya untuk menyelesaikan proses sakit ini. Saya tahu saya mampu.
Pukul
9 masuk rumah sakit, pukul 14.30 dokter menyatakan bahwa sudah saatnya
saya menjalani kuretase. Saya meringis saat dokter anestesi menyiapkan
suntikan biusnya. Dokter meminta saya berhitung 1 sampai 10 dan baru
hitungan ke 3 rasanya saya sudah mendarat di suatu tempat yang tidak
saya kenali. Labirin. Ya. Sebuah lorong labirin yang panjang. Saya harus
mencari jejak keluar dari sini. Lama dan panjang sekali. Dimana jalan
keluar itu. Dimana saya. Kenapa tak ada orang di sini. Sepi. Saya tak
suka di sini. Saya mau keluar. Saya tak mau di sini. Setelah lelah
berputar-putar, saya seperti melihat cahaya. Ya. Saya menuju ke cahaya
itu. Saya mengeja tulisan yang ada di tempat itu. Saya berhasil
membacanya. Allah.. Astaghfirullah..dan kalimat dzikir lain berhasil
saya temukan di sana. Saya merasa lebih baik. Tapi saya harus keluar
dari sini. Saya bingung harus kemana.
Perlahan saya seperti
melihat bayangan orang, tapi mata saya begitu berat. Saya mulai
memanggil suami. Saya ingin bertemu suami, dan berusaha sekuatnya
membuka mata. Tapi serasa ada yang menahan saya untuk bergerak. Ah, apa
ini sebenarnya. Saya sungguh dibuat bingung dan kelelahan. Berkali-kali
mencoba saya semakin dibuat pusing dan sakit. Dan setelah sekian lama,
sayapun bisa membuka mata, mulut saya tak henti berceloteh. Saya berucap
syukur Alhamdulillah bisa melihat wajah suami, menjerit menyebut Allah
dan tak henti menanyakan keberadaan mama saya. Wajah suami yang tadinya
hanya bayangan, mulai semakin jelas. Ia seperti kontemplasi yang
terpotong-potong. Dan lalu ia utuh. Satu. Saya melihatnya dan bertanya
apakah saya sudah selesai dikuret. Ya. Semua sudah selesai satu jam yang
lalu ujarnya. Saya menanyakan apakah saya baik-baik saja, apakah anak
kami sudah keluarkan dan apakah saya boleh pulang. Suami menjelaskan
dengan sabar dan tetap erat memegang tangan saya. Ah, itukah rasanya tak
sadarkan diri karena pengaruh bius, begitu sulitkah mencari kesadaran
hingga akhirnya bisa kembali membuka mata. Saya tak mau lagi. Sungguh
tak mau lagi. Dokter lalu datang menanyakan kondisi saya. Ia tersenyum
melihat saya masih sedikit mengigau. Sayapun sempat bertanya padanya
perihal janin saya dengan suara masih seperti diayun. Saya belum sadar
100 % rupanya. Pusing sekali dan sayapun muntah. Menghabiskan isi perut
saya. Dokter menyarankan saya jangan bangun dulu, tetap berbaring saja.
Bila malam nanti sudah benar-benar baikan maka saya dibolehkan pulang.
Kami memang mengambil paket kuretase 1 hari perawatan saja. Jam 8 malam,
kondisi saja semakin baik. Meski masih sempoyongan, saya dan suami
memutuskan pulang. Saya tak sanggup mendengar rintihan seorang perempuan
di ranjang sebelah yang juga kehilangan anaknya setelah kehamilan
memasuki 5 bulan. Saya lebih memilih beristirahat di rumah saja agar
lebih tenang. Mama juga hampir sampai. Perjalanan 8-9 jam tentu
melelahkan bagi mama. Tapi ia datang demi saya, anaknya.
Malam
itu, saya tahu bahwa saya tidak hamil lagi. Hasil kuretase berupa
gumpalan daging diserahkan pihak rumah sakit untuk dkuburkan keesokan
harinya. Inilah saya saat ini. Saya harus ikhlas atas semuanya. Ya.
Pasti Allah telah mempersiapakan hal yang lebih indah untuk saya. Hari
itu, 23 November 2013. Hari yang tak akan terlupakan seumur hidup. Dan
hari ini dua bulan sudah kepergianmu, nak. Selamat jalan, nak... selamat
jalan, sayang... kami mencintaimu. Meski hanya sebentar engkau ada di
rahim ummi, tapi terimakasih telah mengajarkan begitu banyak hal pada
kami. Semoga kelak Allah mempertemukan kita di tempat terindah, di
jannah-Nya. Aamiin.
***
*Lama sudah tak
menulis. Siapapun yang meluangkan waktu untuk membaca, mohon doakan kami
agar segera di beri kesempatan lagi untuk memiliki buah hati. Doa kami
pun untuk sahabat agar selalu diberi kelimpahan barokah dan rezeki
dari-Nya. Aamiin
*Teruntuk suami luar biasa..Mas Moch Irfan...
terimakasih telah membersamai adee hingga hari ini. Ini hidup kita. Ini
kisah kita. Ini cinta kita. Semangaaat! ^^
Adee mencintai Mas karena Allah.
~Velangi~