Welcome everybody....

Welcome everybody....

Kamis, 23 April 2015

Aku dan ...



Aku dan takdir Yang Maha Kuasa. Aku dan semua mimpi di masa lalu. Aku dan kenyataan di masa kini. Aku dan selaksa harapan untuk masa depan.

Aku dan kekasih hati yang menemani. Aku dan 3 calon buah hati yang telah diambil-Nya kembali. Aku dan silih berganti ujian kesabaran dan kesyukuran.

Aku dan seorang lelaki yang menyayangiku. Aku dan keluarga yang mengasihiku. Aku dan kehidupan yang berlukis cerita panjung mnuju tujuan. 

Aku dan kesepianku. Aku dan keramaian yang semu. Aku dan diriku yang bukan aku. Aku yang terjebak dalam situasi tak berkondisi. Aku dan semua adaptasi.

Aku dan tetangga yang saling mengerti. Aku dan kesibukan menjadi istri. Aku yang mengalah meski inginku ada di sebuah institusi. Aku yang haus berbagi ilmu pada murid-muridku.

Aku dan matahari yang saling menemani. Aku dan bulan yang sudah lama tak bersua. Aku dan pelangi yang entah tak lagi saling mengunjungi. Aku dan hujan yang juga tak lagi saling menyapa.

Aku dan saudaraku yang kadang tak sepaham. Aku dan iparku yang kadang tak sehati. Aku dan suamiku yang kadang saling menang sendiri. Aku dan diriku yang saling menutupi.

Aku dan berbagai pernik bisu di rumah kami. Aku dan beraneka masakan yang kuciptakan. Aku dan media sebagai tempat melepas rasa. Aku dan sekian kata-kata yang sebenarnya tak terwakilkan.

Aku dan citaku yang semakin menjauh. Aku dan jenuh dan menumpuk jadi satu. Aku dan jalan keluar yang belum bertemu. Aku dan keheningan menjalani selaksa rindu.

Aku dan ceria yang kurang berwarna. Aku dan tangis yang kusimpan rapi. Aku dan bosan yang kadang kebingungan. Aku dan kehilangan yang menyesakkan.

Aku dan takdirku. Aku dan Tuhanku. Aku dan waktuku. Aku dan sukaku. Aku dan laraku. Aku dan segalanya yang sudah sedang dan akan dihadapi.

Aku dan kuatku dan pasrahku dan menerimaku dan menyerahkan dengan penuh semua yang tak bisa ku jangkau satu demi satu, hanya pada-Mu Sang Pemegang dan Penenang Kalbu.

Velangi
April, 2015

Jumat, 26 September 2014

Hari Ini Dua Bulan Yang Lalu

Hari Ini Dua Bulan Yang Lalu


*Akhir Oktober*
Hampir dua bulan sudah pernikahan kami. Menjalani kehidupan rumah tangga yang tak selalu seindah pelangi. Belajar menerima dan menghargai setiap kekurangan dan kelebihan. Tentu tak selalu berhias tawa, ada sedih dan airmata mengiringi. Ya. Begitulah dinamika pernikahan, dengan warna-warninya yang kadang mengejutkan dan membuat mata serta hati lebih terbuka. Iman adalah pondasi, cinta adalah pengikat, komitmen adalah penjaga, dan tanggung jawab adalah dinding pengokoh yang membuat sebuah rumah tangga tetap bersandar pada tujuan awal menikah, berbahagia dan meraih ridho-Nya. Meski berbalut sejuta rasa, tapi melewatinya dengan bergandeng tangan adalah kemesraan nan menentramkan.

Dan kamipun mendapatkan kabar bahagia yang tentunya dinantikan oleh setiap pasangan baru menikah. Saya positif hamil. Alhamdulillah. Setelah melewati 4 hari terlambat datang bulan, saya dan suami memberanikan diri untuk menggunakan test pack. Dan ternyata ada dua garis merah muncul. Karena tak yakin, saya sempat meminta beberapa teman yang telah lebih dulu merasakan hamil untuk memastikan apakah benar hasilnya. Mereka sepakat bahwa benar saya hamil. Esoknya, saya dan suami pergi ke dokter kandungan untuk memeriksakan diri. Di kunjungan yang pertama ini saya dan suami memilih seorang dokter yang berdasarkan info seorang teman kerja suami adalah seorang dokter senior di kota tempat kami tinggal. Dokternya sudah berumur, 50 tahunan mungkin. Ia bukan muslim, ada anjing berbulu lebat di ruang prakteknya. Ah, semoga kami tak salah pilih.

Saya tak langsung diperiksa meski telah menunggu lebih dari 1 jam. Sang dokter malah menasehati banyak hal. Tentang mengapa begitu cepat hamil, kenapa tidak menunda 1 tahun untuk saling mencocokkan diri, kalau punya anak cukup dua saja dan cerita tentang pengalaman prakter sang dokter di pulau seberang yang sebetulnya tak perlu kami tahu. Saya dan suami hanya tersenyum walau dalam hati sudah tak sabar dengan sang dokter. Lagipula mengapa harus menunda punya anak, bukankah menikah untuk memiliki keturunan. Hm, pak dokter aneh-aneh saja. Dan akhirnya tibalah saatnya, karena saya mengatakan bahwa di test pack hasilnya positif maka saya pun langsung di usg. Dibantu seorang perawat yang berhijab, sang dokter memeriksa keberadaan janin saya. Ia agak kesulitan nampaknya, tapi ia terus mencari, ia bilang untuk usia kandungan masih muda memang bayinya belum terlihat. Dokterpun akhirnya menemukan kantong janin saya. Ia menanyakan tanggal haid terakhir saya dan dengan bantuan perawat menghitung usia kandungan saya, 5 minggu 4 hari. Wah... Alhamdulillah. Saya pun memberi tahu kabar bahagia itu pada orangtua, keluarga dan teman2. Senangnya... cucu pertama ini tentu membuat semua bersuka-cita.

Sehari setelah itu, sebuah ujian datang. Ada salah paham dalam keluarga yang melibatkan saya dan suami. Masalah kecil yang tumbuh menjadi besar tanpa disangka. Ya Allah...kenapa harus sekarang, kenapa kami, kenapa... Saya yang sedang dalam kondisi mental tak stabil karena kehamilan maka mudah sekali sensitif dan menangis. Beberapa hari setelahnya saya masih sedih berkelanjutan hingga orangtua menasehati agar berhati-hati jangan sampai mempengaruhi kondisi janin saya. Dan benar saja, saya sempat drop. Suami dengan telaten merawat saya. Sadar bahwa saya berbadan dua, maka saya menguatkan hati untuk bersabar dan menjadi sehat adalah pilihan yang harus diambil. Saya dan suami saling mendukung dan memotivasi bahwa ujian ini karena Allah sayang pada kami. Kami pasti bisa melaluinya. Semua akan berakhir secepatnya.

Hari-hari berlalu, saya semakin doyan makan, kalau orang-orang hamil muda banyak mengalami mual dan muntah maka saya sangat jarang. Hanya saat-saat terntentu saja rasa mual dan ingin muntah itu datang. Semuanya saya makan kecuali yang memang tak dianjurkan untuk ibu hamil. Saya merasa sangat baik menjalani kehamilan. Suatu hari ada flek memang yang muncul. Tapi Alhamdulillah tak berlanjut. Saya semakin banyak mencari tahu lewat internet segala hal tentang kehamilan. Dari yang saya baca saya pun tahu bahwa flek itu adalah normal. Ia pertanda adanya proses penempelan janin di rahim. Leganya. Saya pun kembali ceria melewati hari demi hari. Saya memang sedang tidak bekerja. Suami meminta untuk saya di rumah saja di awal kehamilan ini. Saya yang terbiasa mengajar dan beraktifitas tentu sempat merasakan jenuh dan seperti kehilangan satu sendi kehidupan. Tapi tak apa. Ini adalah permintaan suami dan memang harus dijalani. Saya menikmati semua yang Allah berikan pada saya.

Hingga suatu pagi saya menemukan ada flek yang kembali keluar. Sudah 8 minggu usia kehamilan saya. Memang, saya sering mengalami kontraksi ringan beberapa hari kemarin. Saya pikir wajar, biasanya memang kontraksi terjadi saat saya selesai mengurus pekerjaan rumah. Suami pun menasihati untuk tak terlalu capek. Tapi flek itu terus keluar. Semakin coklat dan saya menjumpai setitik darah yang saya pikir ada sesuati yang tak baik terjadi. Saya langsung mengabari suami. Dan suami meminta izin dari kantor untuk segera membawa saya ke dokter. Kali ini kami memilih rumah sakit berbeda dan dokter yang berbeda. Entah kenapa, saya tak mau kembali ke dokter yang sebelumnya. Rumah sakit yang kami datangi adalah rumah sakit bernuansa Islam. Lebih nyaman dan tenang suasananya. Tak lama menunggu dokter pun memeriksa saya. Dengan keluhan keluar flek dokter pun langsung mengarahkan alat usg ke perut saya. Dan ia langsung mengatakan bahwa kehamilan saya tidak bisa dipertahankan. Saya seperti tak percaya. Apa iya secepat ini. Saya teringat beberapa malam lalu saya pernah menyampaikan ke suami bahwa ada beberapa kondisi kehamilan yang harus kita waspadai. Salah satunya adalah kehamilan BO atau Blighted Ovum. Kehamilah dimana janin tidak berkembang sempurna hingga harus dikeluarkan dengan cara kuretase. Saya pun bilang ke suami waktu itu bahwa kami harus siap dengan kemungkinan apapun. Dan sekarang dokter melihat bahwa kehamilan saya tidak sesuai dengan usia seharusnya. Perkembangan yang lambat dan ia hanya melihat kantung janin saja. Ya Rabb...apa iya saya juga harus mengalami ini..

Dokter menjelaskan semua yang kami tanyakan. Tentang penyebabnya yang bisa jadi karena kelainan kromosom, tentang kemungkinan saya di kuret, tentang bagaimana bila saya tetap mempertahankan janin saya, tentang banyak hal yang ingin kami tau agar kami tak salah mengambil keputusan. Ingin menangis rasanya saat itu juga, tapi saya tau saya harus kuat. Dokter menawarkan saya untuk observasi dulu seminggu sampai dua minggu ke depan. Beliau meresepkan obat berupa vitamin dan penguat kandungan. Biayanya lumayan menguras kantong. Tapi demi calon buah hati, apapun akan kami lakukan. Di perjalanan pulang saya mengabari kelurga. Rasanya baru kemarin kami berbahagia dengan kabar kehamilan tapi sekarang malah kabar buruk ini yang harus kami terima. Entahlah mau menyalahkan siapa. Dokter sebelumnyakah yang kurang cermat dengan kondisi janin saya dan memberi obat yang kurang tepat, saya pribadikah yang kurang menjaga dan bersyukur dengan pemberian-Nya atau menyalahkan kondisi yang membuat saya tertekan dan stres beberapa waktu lalu. Ya Rabb... ujian ini tak mudah untuk kami...berilah hati yang lapang dan pikiran yang jernih untuk melewatinya. Sabarkan dan kuatkan kami agar tak berprasangka buruk pada-Mu. Mungkin memang kami harus lebih banyak mempersiapkan diri, harus lebih banyak belajar menjadi orangtua, harus banyak bermuhasabah.

Hari-hari selanjutnya adalah masa istirahat total. Bed rest ditemani suami yang sengaja mengambil cuti kerja untuk merawat saya. Berbaring seharian itu sungguh tak enak. Hanya bangun bila akan ke kamar mandi atau saat makan disuapi suami. Sholat pun dengan berbaring. Selebihnya saya seperti menjadi robot yang tak boleh banyak bergerak agar flek tak lagi keluar. Semua makanan yang disarankan keluarga dan teman saya makan. Mulai dari telur ayam kampung, alpukat, dll. Saya sempat membaik tapi 3 hari kemudian saya malah mengalami pendarahan. Saya menangis dan menyerahkan semuanya pada Allah. Saya tahu ini yang terbaik untuk saya dan janin saya. Orang-orang terdekat tak henti membantu memberi support. Saya pun menghubungi beberapa teman yang lebih dulu memiliki pengalaman janin tidak berkembang. Mereka menyarankan agar saya mau dikuret. Kondisi seperti saya tidak baik dipertahankan. Janin yang tidak berkembang harus dikeluarkan agar tidak membahayakan saya nantinya. Belum rezeki kata mereka. Belum siap mungkin saya dan suami menjadi orangtua. Atau memang belum waktunya. Ah, saya sedikit sakit mendengar itu, tapi memang inilah yang harus saya jalani.

*Akhir November*
Malam itu, 22 November 2013, kontraksi semakin menjadi, darah segar mulai keluar dan saya sudah pasrah jika semuanya harus diakhiri. Sehari sebelumnya saya telah mengajak janin saya berkomunikasi. Saya mengajaknya ngobrol seolah ia bisa mendengar saya. Saya meminta maaf bila saya lalai menjaganya atau saya kurang bersyukur atas kehadirannya dan saya akan ikhlas apapun yang terjadi. Bila ia masih ingin tumbuh di rahim saya, maka saya akan berbahagia dan berjuang merawat serta membesarkannya. Tapi bila ia ternyata memang sudah tak bisa lagi tumbuh dan berkembang maka saya ikhlaskan dia pergi. Saya kuat. Kami kuat dan akan melaluinya bersama. Sayapun dibawa ke rumah sakit menjelang tengah malam. Dokter yang ternyata berasal dari kota yang sama dengan kami begitu ramah menjelaskan kondisi saya. Setelah menjalani pemerikasaan yang cukup membuat saya menjerit, dokter memastikan kondisi janin sudah tidak baik untuk dipertahankan. Ia sudah diselimuti darah dan akan berbahaya bagi saya bila memaksa untuk bertahan. Dokter menyarankan untuk segera dilakukan kuretase. Ia membolehkan saya pulang malam itu dan kembali lagi esok hari untuk proses kuretase. Ya. Tinggal menunggu jam dan engkau akan tak ada lagi di rahim umi nak.

Sesampainya dirumah malah saya sulit tidur. Ini malam terakhir bersama calon anak kami. Terbayang banyak hal tentang bagaimana esok akan berlalu. Apakah akan lancar semuanya, apakah malah harus berujung pada kematian yang saya sendiri merasa belum siap. Bagaiman nasib suami nanti, sedihkah ia, menikah lagikah ia. Ya Allah... alangkah beratnya ujian ini. Kenapa harus saya...kenapa bukan kehamilan normal saja yang saya alami... kenapa orang lain bisa dengan mudah memiliki anak. Pertanyaan-pertanyaan itu berputar terus di kepala saya. Di tengah sedih itu, saya teringat nasihat seorang teman yang beberapa bulan sebelumnya juga mengalami hal yan sama. Ia meyakinkan bahwa kita beruntung mengalami ini, karena tidak semua orang seperti kita. Anak yang tidak jadi lahir akan menjadi tabungan orangtuanya kelak di surga. InsyaAllah... bila orangtuanya sabar dan ikhlas maka ia akan menunggu di pintu surga dan mengajak orangtuanya masuk ke surga-Nya Allah. Saya tergugu dan malu. Tak boleh lemah. Saya pasti bisa melewatinya. Bismillah..

Esoknya, saya dan suami diantar sopir kantor suami pergi lagi ke rumah sakit dengan membawa perlengkapan secukupnya. Kami hanya berdua, keluarga kami jauh di kota berbeda. Saya sudah meminta mama untuk datang menemani saya dan mamapun langsung pergi memenuhi permintaan saya. Berada di kamar rumah sakit bersama suami. Sungguh, ini tak pernah saya alami sebelumnya. Sampai usia 27 tahun saya tak pernah sekalipun dirawat di rumah sakit. Ini ntuk pertama kalinya saya menjadi pesakitan seperti ini. Ada rasa yang entah apa namanya, semua sudah bercampur menjadi satu. Sempat berdebat saat perawat akan memasangkan infus karena saya begitu takut. Saya pun sempat pula dimarahi perawat karena saya tak mau diperiksa pada bagian bawah tubuh untuk memastikan kesiapan saya menjalani operasi. Inilah hari bersejarah itu, nak. Umi tak melahirkanmu tapi mengalami kontraksi yang luar biasa sakitnya setelah diberi obat induksi oleh perawat. Sakitnya sungguh belum pernah umi rasakan. Ayahmu setia disamping ummi menguatkan dan tak henti meyakinkan bahwa ummi bisa melaluinya. Ya Rabb... saya tau ini harus saya lewati, tapi mohon kuatkan saya untuk menyelesaikan proses sakit ini. Saya tahu saya mampu.

Pukul 9 masuk rumah sakit, pukul 14.30 dokter menyatakan bahwa sudah saatnya saya menjalani kuretase. Saya meringis saat dokter anestesi menyiapkan suntikan biusnya. Dokter meminta saya berhitung 1 sampai 10 dan baru hitungan ke 3 rasanya saya sudah mendarat di suatu tempat yang tidak saya kenali. Labirin. Ya. Sebuah lorong labirin yang panjang. Saya harus mencari jejak keluar dari sini. Lama dan panjang sekali. Dimana jalan keluar itu. Dimana saya. Kenapa tak ada orang di sini. Sepi. Saya tak suka di sini. Saya mau keluar. Saya tak mau di sini. Setelah lelah berputar-putar, saya seperti melihat cahaya. Ya. Saya menuju ke cahaya itu. Saya mengeja tulisan yang ada di tempat itu. Saya berhasil membacanya. Allah.. Astaghfirullah..dan kalimat dzikir lain berhasil saya temukan di sana. Saya merasa lebih baik. Tapi saya harus keluar dari sini. Saya bingung harus kemana.

Perlahan saya seperti melihat bayangan orang, tapi mata saya begitu berat. Saya mulai memanggil suami. Saya ingin bertemu suami, dan berusaha sekuatnya membuka mata. Tapi serasa ada yang menahan saya untuk bergerak. Ah, apa ini sebenarnya. Saya sungguh dibuat bingung dan kelelahan. Berkali-kali mencoba saya semakin dibuat pusing dan sakit. Dan setelah sekian lama, sayapun bisa membuka mata, mulut saya tak henti berceloteh. Saya berucap syukur Alhamdulillah bisa melihat wajah suami, menjerit menyebut Allah dan tak henti menanyakan keberadaan mama saya. Wajah suami yang tadinya hanya bayangan, mulai semakin jelas. Ia seperti kontemplasi yang terpotong-potong. Dan lalu ia utuh. Satu. Saya melihatnya dan bertanya apakah saya sudah selesai dikuret. Ya. Semua sudah selesai satu jam yang lalu ujarnya. Saya menanyakan apakah saya baik-baik saja, apakah anak kami sudah keluarkan dan apakah saya boleh pulang. Suami menjelaskan dengan sabar dan tetap erat memegang tangan saya. Ah, itukah rasanya tak sadarkan diri karena pengaruh bius, begitu sulitkah mencari kesadaran hingga akhirnya bisa kembali membuka mata. Saya tak mau lagi. Sungguh tak mau lagi. Dokter lalu datang menanyakan kondisi saya. Ia tersenyum melihat saya masih sedikit mengigau. Sayapun sempat bertanya padanya perihal janin saya dengan suara masih seperti diayun. Saya belum sadar 100 % rupanya. Pusing sekali dan sayapun muntah. Menghabiskan isi perut saya. Dokter menyarankan saya jangan bangun dulu, tetap berbaring saja. Bila malam nanti sudah benar-benar baikan maka saya dibolehkan pulang. Kami memang mengambil paket kuretase 1 hari perawatan saja. Jam 8 malam, kondisi saja semakin baik. Meski masih sempoyongan, saya dan suami memutuskan pulang. Saya tak sanggup mendengar rintihan seorang perempuan di ranjang sebelah yang juga kehilangan anaknya setelah kehamilan memasuki 5 bulan. Saya lebih memilih beristirahat di rumah saja agar lebih tenang. Mama juga hampir sampai. Perjalanan 8-9 jam tentu melelahkan bagi mama. Tapi ia datang demi saya, anaknya.

Malam itu, saya tahu bahwa saya tidak hamil lagi. Hasil kuretase berupa gumpalan daging diserahkan pihak rumah sakit untuk dkuburkan keesokan harinya. Inilah saya saat ini. Saya harus ikhlas atas semuanya. Ya. Pasti Allah telah mempersiapakan hal yang lebih indah untuk saya. Hari itu, 23 November 2013. Hari yang tak akan terlupakan seumur hidup. Dan hari ini dua bulan sudah kepergianmu, nak. Selamat jalan, nak... selamat jalan, sayang... kami mencintaimu. Meski hanya sebentar engkau ada di rahim ummi, tapi terimakasih telah mengajarkan begitu banyak hal pada kami. Semoga kelak Allah mempertemukan kita di tempat terindah, di jannah-Nya. Aamiin.

***

*Lama sudah tak menulis. Siapapun yang meluangkan waktu untuk membaca, mohon doakan kami agar segera di beri kesempatan lagi untuk memiliki buah hati. Doa kami pun untuk sahabat agar selalu diberi kelimpahan barokah dan rezeki dari-Nya. Aamiin
*Teruntuk suami luar biasa..Mas Moch Irfan... terimakasih telah membersamai adee hingga hari ini. Ini hidup kita. Ini kisah kita. Ini cinta kita. Semangaaat! ^^
Adee mencintai Mas karena Allah.

~Velangi~