Menelusup angin melewati jiwa
Menikung mata menuju hati
Serupa awan menyelimuti kapal
Tak berjalan tak tau arah kemana
Berayun pada tali yang hanya seutas
Meliuk meski raga sudah terlalu lelah
Peluh yang merayu tak jua ingin mengering
Dan temaram langit tetap tak berubah
Bukankah sudah ada tanda dari jauh
Suara nyanyian memecah kesunyian
Bila pun tanah menguap meniupkan gersang
Ada air hujan yang selalu mampu membasuhnya sempurna
Kelak, kan kuceritakan pada bintang
Bahwa bulan masih setia menemani rasa
Pada ujungnya kan ku deraikan pula tawa pada siang
Kan ku tarikan lagu cinta penuh suka cita
Pada embun yang esok kan kembali menemui dahan
Bolehkan menitip rangkaian pesan
Atau bisikkan saja pada daun-daun hijau nan segar itu
Tak perlu terlalu gaduh, pelan saja sembari mengulur doa
Di titik yang penuh warna merah
Tapi biru masih mengiring dengan anggun
Dan aku pastikan ungu terbawa pada bijak sang waktu
Meski putih dan hitam tetap menghadirkan kelabu dalam ragu
Ini hidupku, bukan hidupmu
Jadi mengapa kau ambil perahuku
Dimana kau lemparkan sampanku
Bahkan bocornya pun tak pula kau hiraukan
Bagimu, ya bagimu duhai pembuat lukisan
Cobalah hapus tintamu yang tak lagi perlu ada di situ
Bawalah ia serta dalam perjalananmu
Bukan ditinggalkan tanpa pesan di tengah malam
Gelap itu memang kan menjadi terang di esok hari
Secerah mentari yang memegang tahta paling rahasia
Andai kau tau wahai pangeranku
Aku rindu, dan rindu itu bernama malu.
^^
Velangi. #Berusaha menemukan hati dalam hati-hati. Smangat!
Menikung mata menuju hati
Serupa awan menyelimuti kapal
Tak berjalan tak tau arah kemana
Berayun pada tali yang hanya seutas
Meliuk meski raga sudah terlalu lelah
Peluh yang merayu tak jua ingin mengering
Dan temaram langit tetap tak berubah
Bukankah sudah ada tanda dari jauh
Suara nyanyian memecah kesunyian
Bila pun tanah menguap meniupkan gersang
Ada air hujan yang selalu mampu membasuhnya sempurna
Kelak, kan kuceritakan pada bintang
Bahwa bulan masih setia menemani rasa
Pada ujungnya kan ku deraikan pula tawa pada siang
Kan ku tarikan lagu cinta penuh suka cita
Pada embun yang esok kan kembali menemui dahan
Bolehkan menitip rangkaian pesan
Atau bisikkan saja pada daun-daun hijau nan segar itu
Tak perlu terlalu gaduh, pelan saja sembari mengulur doa
Di titik yang penuh warna merah
Tapi biru masih mengiring dengan anggun
Dan aku pastikan ungu terbawa pada bijak sang waktu
Meski putih dan hitam tetap menghadirkan kelabu dalam ragu
Ini hidupku, bukan hidupmu
Jadi mengapa kau ambil perahuku
Dimana kau lemparkan sampanku
Bahkan bocornya pun tak pula kau hiraukan
Bagimu, ya bagimu duhai pembuat lukisan
Cobalah hapus tintamu yang tak lagi perlu ada di situ
Bawalah ia serta dalam perjalananmu
Bukan ditinggalkan tanpa pesan di tengah malam
Gelap itu memang kan menjadi terang di esok hari
Secerah mentari yang memegang tahta paling rahasia
Andai kau tau wahai pangeranku
Aku rindu, dan rindu itu bernama malu.
^^
Velangi. #Berusaha menemukan hati dalam hati-hati. Smangat!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar