1 September 2013
Laki-laki yang tadinya tak ku kenal, yang beberapa bulan lalu mengajakku menikah, pagi itu, ia berhadapan dengan ayahku. Berpegang tangan, erat, bertatapan. Ia mengucapkan ikrar pernikahan, janji suci yang menggentarkan arasy-Nya. Ia mengambil alih tanggungjawab ayahku ke pundaknya. Ia menghalalkanku menjadi istrinya. Ia, Moch Irfan. Suamiku sejak hari itu. 25 Syawal 1434 H. Kami telah menjadi suami-istri saat ini. Menjadi pasangan yang akan mengarungi panjangnya bahtera kehidupan berdua. Meski akan mengalami proses saling beradapsi di awal pernikahan dan hingga seterusnya, 1 hal yang kurasa sejak hari itu, adalah aku telah jatuh cinta. ^^ dan aku tak ingin berlama-terpaku, aku ingin membangun cinta bersama laki-laki itu, suamiku, membangun mahligai istana kami, yang insyaAllah sakinah, mawaddah wa rohmah dalam ridho-Nya. aamiin.
Aku menjumpainya di tempat tidur malam itu. Memandang wajah tampannya. Menikmati lekuk khas senyumnya. Aku seperti menatap hidup baru di matanya. Di setiap kata-katanya aku merasakan cinta. Aku melihat ia kala bangun tidur. Ah, sudah ada yang terbaring di sampingku. Aku suka kecupan bangun tidurnya, aku suka pernyataan sayangnya padaku di saat ia tersadar di pagi hari, aku suka dan semakin suka. Kekasih halalku. Pangeranku. Laki-lakiku. Aku mengaguminya mulai detik itu. Detik dimana aku menyadari betapa Allah Maha Baik sudah mempertemukan aku dengannya. Suami yang tak banyak meminta ini itu, yang sabar pada manjaku, yang menggenggamku erat ketika gundah menerpa. Aku beruntung memilikimu menjadi pendampingku, mas. Aku mencintaimu. Ingin menjadi yang terbaik untukmu.
Sakinah. Tenang dalam Bahasa Indonesianya. Aku benar merasakannya semenjak menikah. Melihatnya makan masakanku, menyiapkan segala keperluannya, memanjakannya saat lelah, dan menemaninya hingga menjelang waktu istirahat adalah rutinitasku kini. Aku menghentikan segala aktifitas kerjaku sejak menikah, mencoba menikmati peran baru ini. Tak apalah untuk sementara menjauh dari rutinitas mengajarku, tak bertemu murid-murid kesayanganku. Aku ingin membersamaimu. mas. Meski jauh dari orangtua, berbeda kota dan berjam-jam jarak memisahkan, aku ingin mendampingin setiap waktu. Memenuhi kebutuhanmu, saling menguatkan, memberi dukungan atas segala pekerjaanmu, dan menjadi penawar rasa lelahmu. Aku ingin ada untukmu. Tak mau berjauhan. Tak mau meninggalkanmu demi beberapa peser uang yang tak ada nilainya dibanding melihat canda tawamu. Aku ikhlaskan semua. Aku untukmu, mas.
Sakinah. Setidaknya aku mulai merasakan itu. Sakitku di hari ke 13 pernikahan kita yang cukup membuatmu khawatir itu, membuatku sadar. Melihatmu yang dengan sabar merawatku, menenangkanku, dan membawaku ke dokter, aku semakin bisa melihat pancaran kasih dan cinta itu. Lalu ujian hati yang kemudian datang karena perselisihan dengan saudara jauh yang menjadi alasan aku berurai airmata di malam beberapa hari lalu itu, aku beruntung memilikimu menjadi penasihat yang netral dan menyejukkan. Aku melewati semuanya dengan tenang. Terimakasih, cinta. Terimakasih sudah begitu baik. Meski baru 23 hari kita melewati hari-hari bersama, tapi aku bahagia. Bahagia menjadi istrimu, menjadi ratumu, menjadi wanitamu.
Alhamdulillah. Terimakasih Allah. Terimakasih mama,papa,ibu,ayah dan adik-adik yang telah mendoakan, membantu saat acara pernikahan dan tak henti memberi dukungan untuk setiap langkah kecil kami. Terimakasih.. karena cinta kalianlah kami mampu sampai ke jenjang ini. Sakinah, insyaAllah...
Ve-Irfan
#Semoga jundi mungil itu segera hadir ditengah-tengah kita ya mas...
Alangkah lucunya ada riang yang mewarnai hari-hari kita kelak. Menambah indah warna pelangi kisah kita.
Aamiin ^^
Laki-laki yang tadinya tak ku kenal, yang beberapa bulan lalu mengajakku menikah, pagi itu, ia berhadapan dengan ayahku. Berpegang tangan, erat, bertatapan. Ia mengucapkan ikrar pernikahan, janji suci yang menggentarkan arasy-Nya. Ia mengambil alih tanggungjawab ayahku ke pundaknya. Ia menghalalkanku menjadi istrinya. Ia, Moch Irfan. Suamiku sejak hari itu. 25 Syawal 1434 H. Kami telah menjadi suami-istri saat ini. Menjadi pasangan yang akan mengarungi panjangnya bahtera kehidupan berdua. Meski akan mengalami proses saling beradapsi di awal pernikahan dan hingga seterusnya, 1 hal yang kurasa sejak hari itu, adalah aku telah jatuh cinta. ^^ dan aku tak ingin berlama-terpaku, aku ingin membangun cinta bersama laki-laki itu, suamiku, membangun mahligai istana kami, yang insyaAllah sakinah, mawaddah wa rohmah dalam ridho-Nya. aamiin.
Aku menjumpainya di tempat tidur malam itu. Memandang wajah tampannya. Menikmati lekuk khas senyumnya. Aku seperti menatap hidup baru di matanya. Di setiap kata-katanya aku merasakan cinta. Aku melihat ia kala bangun tidur. Ah, sudah ada yang terbaring di sampingku. Aku suka kecupan bangun tidurnya, aku suka pernyataan sayangnya padaku di saat ia tersadar di pagi hari, aku suka dan semakin suka. Kekasih halalku. Pangeranku. Laki-lakiku. Aku mengaguminya mulai detik itu. Detik dimana aku menyadari betapa Allah Maha Baik sudah mempertemukan aku dengannya. Suami yang tak banyak meminta ini itu, yang sabar pada manjaku, yang menggenggamku erat ketika gundah menerpa. Aku beruntung memilikimu menjadi pendampingku, mas. Aku mencintaimu. Ingin menjadi yang terbaik untukmu.
Sakinah. Tenang dalam Bahasa Indonesianya. Aku benar merasakannya semenjak menikah. Melihatnya makan masakanku, menyiapkan segala keperluannya, memanjakannya saat lelah, dan menemaninya hingga menjelang waktu istirahat adalah rutinitasku kini. Aku menghentikan segala aktifitas kerjaku sejak menikah, mencoba menikmati peran baru ini. Tak apalah untuk sementara menjauh dari rutinitas mengajarku, tak bertemu murid-murid kesayanganku. Aku ingin membersamaimu. mas. Meski jauh dari orangtua, berbeda kota dan berjam-jam jarak memisahkan, aku ingin mendampingin setiap waktu. Memenuhi kebutuhanmu, saling menguatkan, memberi dukungan atas segala pekerjaanmu, dan menjadi penawar rasa lelahmu. Aku ingin ada untukmu. Tak mau berjauhan. Tak mau meninggalkanmu demi beberapa peser uang yang tak ada nilainya dibanding melihat canda tawamu. Aku ikhlaskan semua. Aku untukmu, mas.
Sakinah. Setidaknya aku mulai merasakan itu. Sakitku di hari ke 13 pernikahan kita yang cukup membuatmu khawatir itu, membuatku sadar. Melihatmu yang dengan sabar merawatku, menenangkanku, dan membawaku ke dokter, aku semakin bisa melihat pancaran kasih dan cinta itu. Lalu ujian hati yang kemudian datang karena perselisihan dengan saudara jauh yang menjadi alasan aku berurai airmata di malam beberapa hari lalu itu, aku beruntung memilikimu menjadi penasihat yang netral dan menyejukkan. Aku melewati semuanya dengan tenang. Terimakasih, cinta. Terimakasih sudah begitu baik. Meski baru 23 hari kita melewati hari-hari bersama, tapi aku bahagia. Bahagia menjadi istrimu, menjadi ratumu, menjadi wanitamu.
Alhamdulillah. Terimakasih Allah. Terimakasih mama,papa,ibu,ayah dan adik-adik yang telah mendoakan, membantu saat acara pernikahan dan tak henti memberi dukungan untuk setiap langkah kecil kami. Terimakasih.. karena cinta kalianlah kami mampu sampai ke jenjang ini. Sakinah, insyaAllah...
Ve-Irfan
#Semoga jundi mungil itu segera hadir ditengah-tengah kita ya mas...
Alangkah lucunya ada riang yang mewarnai hari-hari kita kelak. Menambah indah warna pelangi kisah kita.
Aamiin ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar