Aku tak hendak mengeluh. Tapi kadang sisi manusiaku keluar begitu saja dengan mudahnya. Sungguh memang sudah sebuah ketentuan bahwa jikalau ingin meraih kenikmatan yang sebenarnya maka harus melalui jalan kesulitan yang nikmatnya ruarrbiasa. Aku dan segala mimpi-mimpi yang belum lagi sepenuhnya terpenuhi. Aku dan setiap ejaan hidup yang kadang seperti berkejaran satu sama lain. Aku yang merindukan yang mungkin tidak seharusnya ku rindukan. Dan aku mulai merasa dan bahkan sangat merasa bahwa jalan itu begitu panjang, berliku, dan entah dimana habisnya.
Bukankah hidup sejatinya memang berjuang. Tak ada yang mudah untuk di raih. Apalagi dengan tanpa perhitungan yang matang. Apalagi penyakit malas yang mudah sekali mewabah dan tak mudah sembuh di kalangan banyak diri. Aku sungguh tak ingin terkena wabah itu. Aku masih punya banyak impian yang harus kuwujudkan. Aku masih punya banyak sekali asa yang mungkin belum lagi sempat ku utarakan pada siang dan malam yang berganti begitu cepat. Aku memang tidak sendiri. Tak pernah sendiri malah. Mimpi ku sebenarnya adalah lingkupan mimpi-mimpi orang-orang terkasih. Harapku adalah juga bentuk penyempurnaan harapan-harapan dari orang-orang yang mengenalku dengan arif. Dan asaku yang selangit itu adalah juga sebenarnya kumpulan dan pengintegrasian asa-asa dari masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang dari ku dan orang-orang yang melihat perjuanganku dari sejak masih belum mengenal dunia hingga mulai menapaki jalannya di batu-batu kecil dan besar menuju tangga keindahan.
apakah bahasaku terlalu menjelimet atau malah tak beraturan. Ah..entahlah. yang pasti aku ingin menulis. Penat rasanya. Tugas akhir itu menguras pikiran, fisik dan tentu dompetku. Banyaknya tanggung jawab yang ku emban dan malah menyisakan hutang di beberapa tempat. Aku masih berjuang. Tak ingin dan tak akan kalah oleh situasi. Aku dan setiap detik kelelahan adalah hanya manifestasi dari mimpi-mimpi yang sudah menanti di depan sana untuk diwujudkan dengan keseriusanku. Aku memang berpelu, banyak. aku berairmata, sering. dan aku kecewa, tak terhingga hitungannya. Tapi tidak untuk setiap pencapaian yang sudah ku buat. Aku kecewa untuk banyak hal yang terlewatkan bersama orang-orang terkasih karena kesibukanku yang jauh dari mereka, aku kecewa karena belum juga mampu memenuhi setiap ingin yang terlontar atau tak terlontar dari mereka dan aku kecewa karena belum juga sempurna sebagai seorang perempuan. Bukan salahku atau salah siapapun meamng. ini hanya tentang waktu. Tentang ketentuan Tuhan yang sudah dituliskan jauh sebelum aku dilahirkan. dan aku tak sepatutnya menggugat itu. Bukankah ketentuan Tuhan adalah yang terbaik yang disiapkan dan dijadwalkan untukku. ini hanya tentang waktu, bukan apapun.
Jika esok, aku menemui lagi kenyataan bahwa jalan itu panjang, mohon berikan aku telaga sabar yang lebih luas menjegal. Mohon berikan aku pundak besi yang tak mempan pukulan-pukulan ketidakpuasan, mohon berikanku sabana padang rumput yang tak terhingga jaraknya untuk ku semai rumput ikhlas nan akan membawaku pada ketenangan dan keyakikna penuh bahwa Engkau sungguh tak tidur di atas sana. Bila waktunya kelak. segala urusan ini akan selesai. Akan tuntas semua kebosanan dan keletihan ini. Dan saat itu, aku mungkin sudah mulai bisa memetik dan memakan buahnya. Buah dari yang kutanam bertahun-tahun ini. Ya. suatu hari. nanti...
Aamiin.
#Ini tak panjang sebenarnya, hanya jalan yang akan membawaku pada diri yang lebih baik dan membaikkan diri yang lain. Semoga. :) #
Bukankah hidup sejatinya memang berjuang. Tak ada yang mudah untuk di raih. Apalagi dengan tanpa perhitungan yang matang. Apalagi penyakit malas yang mudah sekali mewabah dan tak mudah sembuh di kalangan banyak diri. Aku sungguh tak ingin terkena wabah itu. Aku masih punya banyak impian yang harus kuwujudkan. Aku masih punya banyak sekali asa yang mungkin belum lagi sempat ku utarakan pada siang dan malam yang berganti begitu cepat. Aku memang tidak sendiri. Tak pernah sendiri malah. Mimpi ku sebenarnya adalah lingkupan mimpi-mimpi orang-orang terkasih. Harapku adalah juga bentuk penyempurnaan harapan-harapan dari orang-orang yang mengenalku dengan arif. Dan asaku yang selangit itu adalah juga sebenarnya kumpulan dan pengintegrasian asa-asa dari masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang dari ku dan orang-orang yang melihat perjuanganku dari sejak masih belum mengenal dunia hingga mulai menapaki jalannya di batu-batu kecil dan besar menuju tangga keindahan.
apakah bahasaku terlalu menjelimet atau malah tak beraturan. Ah..entahlah. yang pasti aku ingin menulis. Penat rasanya. Tugas akhir itu menguras pikiran, fisik dan tentu dompetku. Banyaknya tanggung jawab yang ku emban dan malah menyisakan hutang di beberapa tempat. Aku masih berjuang. Tak ingin dan tak akan kalah oleh situasi. Aku dan setiap detik kelelahan adalah hanya manifestasi dari mimpi-mimpi yang sudah menanti di depan sana untuk diwujudkan dengan keseriusanku. Aku memang berpelu, banyak. aku berairmata, sering. dan aku kecewa, tak terhingga hitungannya. Tapi tidak untuk setiap pencapaian yang sudah ku buat. Aku kecewa untuk banyak hal yang terlewatkan bersama orang-orang terkasih karena kesibukanku yang jauh dari mereka, aku kecewa karena belum juga mampu memenuhi setiap ingin yang terlontar atau tak terlontar dari mereka dan aku kecewa karena belum juga sempurna sebagai seorang perempuan. Bukan salahku atau salah siapapun meamng. ini hanya tentang waktu. Tentang ketentuan Tuhan yang sudah dituliskan jauh sebelum aku dilahirkan. dan aku tak sepatutnya menggugat itu. Bukankah ketentuan Tuhan adalah yang terbaik yang disiapkan dan dijadwalkan untukku. ini hanya tentang waktu, bukan apapun.
Jika esok, aku menemui lagi kenyataan bahwa jalan itu panjang, mohon berikan aku telaga sabar yang lebih luas menjegal. Mohon berikan aku pundak besi yang tak mempan pukulan-pukulan ketidakpuasan, mohon berikanku sabana padang rumput yang tak terhingga jaraknya untuk ku semai rumput ikhlas nan akan membawaku pada ketenangan dan keyakikna penuh bahwa Engkau sungguh tak tidur di atas sana. Bila waktunya kelak. segala urusan ini akan selesai. Akan tuntas semua kebosanan dan keletihan ini. Dan saat itu, aku mungkin sudah mulai bisa memetik dan memakan buahnya. Buah dari yang kutanam bertahun-tahun ini. Ya. suatu hari. nanti...
Aamiin.
#Ini tak panjang sebenarnya, hanya jalan yang akan membawaku pada diri yang lebih baik dan membaikkan diri yang lain. Semoga. :) #
Tidak ada komentar:
Posting Komentar