"Children Learn What They Live" A Note by Dorothy Law N
Yulistya Venita (6 Februari 2010)
Mengagumkan!
Itulah yang ada dalam benakku saat melihat 'dia' mendidik dan memberi pelajaran pada anaknya.
'Dia' jarang sekali marah, lembut, sangat sabar dan tentu saja cerdas.
'Dia' membuatku iri, karena aku belum dapat kesempatan mulia sepertinya, menjadi Ibu. Dan segala yang 'dia' contohkan sungguh luar biasa bagiku. 'Dia' biasa dipanggil Ummi oleh anak-anaknya. Wanita paruh baya yang dengan telaten membesarkan 3 putra sekaligus. Tak ada kekerasan. Tak ada bentak amarah. Tak ada hentaman pukulan. Yang ada malah senyuman, ucapan santun, dan cinta yang terpancar jelas dari setiap perbuatannya. 'Dia' begitu piawai mendidik dengan cinta. Konsep dasar yang juga dipakai dalam Islam. Ia menerapkan konsep mandiri pada anaknya dengan membebaskan melakukan apapun tapi tetap diawasi. Hebat. Bravo untuk 'dia'.
Smoga limpahan rahmat Allah selalu padamu wahai ibu generasi peradaban..kau Wanita Tangguh yang tidak biasa.
Jujur..aku sempat membandingkan dengan cara ibuku mendidik aku dan adik-adik dulu. Cenderung keras dan kurang demokrat. Tak heran mendengar bentakan ibu yang menggelegar bila kami nakal. Tak usah bertingkah macam-macam dengan merajuk tak menuruti kata-katanya, bersiaplah menerima gagang sapu di kaki. Uh, masa kecil yang sarat makna. Tapi tentu tak semuanya buruk. Ada banyak kebaikan yang diajarkan ibuku. Karena tanpa bimbingannya tak mungkin aku tumbuh dengan otak yang bisa dibilang lebih dari rata-rata. Terbukti peringkat 1 yg tertulis di hampir smua raportku. Aku menjadi tegar dan perkasa juga karena campur tangan orangtuaku tentunya. Maka apapun keadaannya harus senantiasa disyukuri. Terimakasih Allah telah menganugerahkn mereka untukku.
1 pelajaran untukku adalah setiap anak akan tumbuh mengikuti cara orangtua mendidiknya.
Seperti catatan manis dari Dorothy Law N berikut:
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesakan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.
***
Aku seorang guru. Walau belum jadi seorang ibu yang sesungguhnya, tapi aku ibu dari murid-muridku. Mereka tanggung jawabku. Tak ingin aku salah mendidik. Karena guru akan digugu dan ditiru. Semoga semua ilmu yang kudapat menjadi bekal untuk semakin bijak mendidik anak-anakku. Amin.
_Ve_
No Teacher No Future. Dan Ibu adalah Guru Pertama bagi anaknya. ^_^
SMANGAD!
Itulah yang ada dalam benakku saat melihat 'dia' mendidik dan memberi pelajaran pada anaknya.
'Dia' jarang sekali marah, lembut, sangat sabar dan tentu saja cerdas.
'Dia' membuatku iri, karena aku belum dapat kesempatan mulia sepertinya, menjadi Ibu. Dan segala yang 'dia' contohkan sungguh luar biasa bagiku. 'Dia' biasa dipanggil Ummi oleh anak-anaknya. Wanita paruh baya yang dengan telaten membesarkan 3 putra sekaligus. Tak ada kekerasan. Tak ada bentak amarah. Tak ada hentaman pukulan. Yang ada malah senyuman, ucapan santun, dan cinta yang terpancar jelas dari setiap perbuatannya. 'Dia' begitu piawai mendidik dengan cinta. Konsep dasar yang juga dipakai dalam Islam. Ia menerapkan konsep mandiri pada anaknya dengan membebaskan melakukan apapun tapi tetap diawasi. Hebat. Bravo untuk 'dia'.
Smoga limpahan rahmat Allah selalu padamu wahai ibu generasi peradaban..kau Wanita Tangguh yang tidak biasa.
Jujur..aku sempat membandingkan dengan cara ibuku mendidik aku dan adik-adik dulu. Cenderung keras dan kurang demokrat. Tak heran mendengar bentakan ibu yang menggelegar bila kami nakal. Tak usah bertingkah macam-macam dengan merajuk tak menuruti kata-katanya, bersiaplah menerima gagang sapu di kaki. Uh, masa kecil yang sarat makna. Tapi tentu tak semuanya buruk. Ada banyak kebaikan yang diajarkan ibuku. Karena tanpa bimbingannya tak mungkin aku tumbuh dengan otak yang bisa dibilang lebih dari rata-rata. Terbukti peringkat 1 yg tertulis di hampir smua raportku. Aku menjadi tegar dan perkasa juga karena campur tangan orangtuaku tentunya. Maka apapun keadaannya harus senantiasa disyukuri. Terimakasih Allah telah menganugerahkn mereka untukku.
1 pelajaran untukku adalah setiap anak akan tumbuh mengikuti cara orangtua mendidiknya.
Seperti catatan manis dari Dorothy Law N berikut:
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesakan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.
***
Aku seorang guru. Walau belum jadi seorang ibu yang sesungguhnya, tapi aku ibu dari murid-muridku. Mereka tanggung jawabku. Tak ingin aku salah mendidik. Karena guru akan digugu dan ditiru. Semoga semua ilmu yang kudapat menjadi bekal untuk semakin bijak mendidik anak-anakku. Amin.
_Ve_
No Teacher No Future. Dan Ibu adalah Guru Pertama bagi anaknya. ^_^
SMANGAD!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar